Saturday, September 27, 2008

Taman Lawang ~ Portrait of Transexual Life in Jakarta


Apa yang ada dalam pikiran anda bila mendengar kata "Jl.Taman Lawang" di Jakarta ? Ya, daerah yang tidak terlalu jauh dari kawasan elit Menteng itu terkenal dengan kehidupan malam waria-nya. Ketika malam tiba, Taman Lawang dipenuhi oleh belasan bahkan puluhan waria penjaja seks komersial. Sebagian besar berpenampilan sangat seronok demi menggaet "klien" mereka.
Kelompok masyarakat yang termajinalkan ini memang menggantungkan hidupnya dengan menjual tubuh mereka di kawasan itu. Pelanggan mereka kebanyakan berasal dari kalangan sosio-ekonomi menengah ke bawah, walaupun sesekali ada juga pelanggan bermobil mewah yang melintasi daerah itu.
Alasan para waria mangkal dan menjual diri di kawasan itu sebagian besar adalah motif ekonomi. Seperti yang dituturkan oleh Ira, seorang waria berkulit putih mulus dan berhidung mancung karena suntikan silikon, yang telah "praktek" di Taman Lawang selama hampir 4 tahun. "Enggak ada pekerjaan untuk waria, Mas, paling banter jadi perias atau pegawai salon, itupun harus punya keahlian dan perlengkapan yang cukup," kata Ira sambil menghisap rokok mild-nya. Ketika ditanya berapa tarif sekali kencan dengan pelanggan, Ira mengatakan : "Ya lihat-lihatlah Mas, kalo lagi sepi 20 ribu, kalo tamunya pakai mobil, ya aku tawar 100 ribu."
Ira yang bernama asli Suwarno dan berasal dari Temanggung ini hanyalah salah satu dari sekian banyak waria yang terpaksa menghidupi dirinya dengan menjadi pekerja seks komersial. Minimnya tingkat pendidikan, kurangnya akses ke informasi dunia kerja, stigmatisasi oleh masyarakat, dan rapuhnya kondisi psikologis para waria itu membuat mereka seakan-akan tidak dapat membuat pilihan hidup lain, selain menjadi pekerja seks komersial - suatu hal yang perlu diperbaiki bersama karena bagaimana pun juga mereka adalah manusia yang punya potensi yang bisa digali dan dikembangkan. Untunglah beberapa LSM terlibat aktif dengan memberikan berbagai macam kursus gratis, seperti kursus menjahit dan merias. Sayangnya keberadaan waria pekerja seks komersial di Taman Lawang ini sering dilihat sebatas sumber masalah saja tanpa mencari tahu akar penyebabnya. Tak jarang lokasi itu dirazia oleh petugas satuan polisi Pamong Praja (Satpol PP). "Wah, saya sering banget, Mas, dikejar-kejar PP (istilah untuk polisi Pamong Praja). Pokoknya kalau mereka datang, saya ngumpet dimana aja deh. Ngumpet di balik pohon, di got, malah saya pernah sampai nyebur ke kali dekat situ. Udah beberapa kali saya ketangkep, untung saja temen-temen suka bantuin nebus saya...biasa, Mas, ujung-ujungnya mereka minta duit," papar Dian - seorang rekan Ira.
Pusat rehabilitasi sosial Kedoya di Jakarta Barat merupakan tempat yang akan dituju oleh para Satpol PP setelah berhasil menjaring para waria tersebut. Di tempat itu mereka akan dibina dan diberikan pengarahan. Namun banyak protes yang terlontar mengenai tempat itu. "Ah, dibina apaan, di Kedoya sama aja kayak di penjara, mana ada yang betah di sana, Mas," ujar Ira ketus.
Pemberdayaan para waria pekerja seks komersial di dalam konsistensi penggunaan kondom juga perlu terus menjadi perhatian pemerintah dan LSM. Seringkali terjadi kekerasan terhadap para waria tersebut saat mereka menolak memenuhi permintaan klien untuk tidak menggunakan kondom. Seperti yang pernah dialami oleh Ricki Claudia - warga Palmerah Jakarta Barat ini pernah dianiaya oleh pria kencannya karena masalah itu. Ini akan menjadi masalah yang crucial dalam hal menurunkan resiko penjangkitan penyakit menular seksual dan HIV di kalangan waria pekerja seks komersial.
Entah sejak kapan Taman Lawang menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli kenikmatan seksual, yang pasti Taman Lawang dengan segala pernak-perniknya telah menjadi bagian kehidupan warga kota Jakarta. Sosok kehidupan Jakarta yang terlihat menggoda, namun sejatinya keras dan penuh bahaya.
See interview with a transexual prostitute in Taman Lawang ......

video

0 Comments:

Post a Comment

<< Home