Saturday, January 27, 2007

Triangular Theory of Love





"Ketika cinta memanggilmu, maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku; Jika cinta memelukmu, maka dekaplah dia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu." (Khalil Gibran)

Dunia penuh dengan karya seni yang menggambarkan cinta dalam berbagai wajahnya. "The Farewell of Telemachus and Eucharis" (gambar atas) adalah salah satu karya pelukis Jacques-Louis David (1818) yang mengisahkan kisah cinta yang berwajah sendu. Telemachus yang sedang mencari keberadaan ayahnya - Odysseus, di tengah perjalanan terdampar di pulau Calypso dan bertemu dengan seorang peri bernama Eucharis. Keduanya pun saling jatuh cinta. Namun, karena tugas yang diembannya, Telemachus harus merelakan perasaannya dan berpisah dengan kekasihnya.

Apakah cinta itu? Mungkin ada baiknya untuk mengenal "Triangular Theory of Love". Di dalam teori ini, cinta digambarkan memiliki tiga elemen/komponen yang berbeda, yaitu : keintiman (intimacy), gairah / nafsu (passion), dan kesepakatan / komitmen(commitment). Teori ini dikemukakan oleh Robert Sternberg - seorang psychologist. Berbagai gradasi maupun jenis cinta timbul karena perbedaan kombinasi di antara ketiga elemen tersebut. Suatu hubungan interpersonal yang didasarkan hanya pada satu elemen ternyata lebih rapuh daripada bila didasarkan pada dua atau tiga elemen.

Berdasarkan "Triangular Theory of Love", terdapat tujuh jenis (wajah) cinta :

Menyukai (liking) atau pertemanan karib (friendship), yang cuma memiliki elemen intimacy. Dalam jenis ini, seseorang merasakan keterikatan, kehangatan, dan kedekatan dengan orang lain tanpa adanya perasaan gairah/nafsu yang menggebu atau komitmen jangka panjang.

Tergila-gila (infatuation) atau pengidolaan (limerence), hanya memiliki elemen passion. Jenis ini disebut juga Infatuated Love, seringkali orang menggambarkannya sebagai "cinta pada pandangan pertama". Tanpa adanya elemen intimacy dan commitment, cinta jenis ini mudah berlalu.

Cinta hampa (empty love), dengan elemen tunggal commitment di dalamnya. Seringkali cinta yang kuat bisa berubah menjadi empty love, yang tertinggal hanyalah commitment tanpa adanya intimacy dan passion. Cinta jenis ini banyak dijumpai pada kultur masyarakat yang terbiasa dengan perjodohan atau pernikahan yang telah diatur (Era Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih?)

Cinta romantis (romantic love). Cinta jenis ini memiliki ikatan emosi dan fisik yang kuat (intimacy) melalui dorongan passion.

Cinta persahabatan sejati (companionate love). Didapatkan pada hubungan yang telah kehilangan passion tetapi masih memiliki perhatian dan intimacy yang dalam serta commitment. Bentuk cinta seperti ini biasanya terjadi antar anggota keluarga.

Cinta semu (fatuous love), bercirikan adanya masa pacaran dan pernikahan yang sangat bergelora (digambarkan "seperti angin puyuh"), commitment terjadi terutama karena dilandasi oleh passion, tanpa adanya pengaruh intimacy sebagai penyeimbang.

Cinta sempurna (consummate love), adalah bentuk yang paling lengkap dari cinta. Bentuk cinta ini merupakan jenis hubungan yang paling ideal, banyak orang berjuang untuk mendapatkan, tetapi hanya sedikit yang bisa memperolehnya. Sternberg mengingatkan bahwa memelihara dan mempertahankan cinta jenis ini jauh lebih sulit daripada ketika meraihnya. Sternberg menekankan pentingnya menerjemahkan elemen-elemen cinta ke dalam tindakan (action). "Tanpa ekspresi, bahkan cinta yang paling besar pun bisa mati" kata Sternberg.

Anda berada di hubungan cinta yang mana ?

I long for my consummate love.....

A song about many faces of love performed by Rossa.....


video

0 Comments:

Post a Comment

<< Home