Tuesday, November 28, 2006

Doing it the Greek Way...





Anal sex (= Anal Intercourse) adalah salah satu bentuk perilaku seksual yang ditandai dengan masuknya penis ke dalam rektum. Perilaku ini dipraktekkan oleh orang yang berorientasi heteroseksual, biseksual, maupun homoseksual, walaupun lebih sering dikaitkan dengan perilaku homoseksual. Beberapa pria dan wanita menyatakan bisa mencapai orgasme melalui penetrasi ke dalam anus mereka, dengan ataupun tanpa stimulasi pada alat genital (penis atau klitoris) pada saat bersamaan. Pada wanita, umumnya kenikmatan itu berasal dari ujung-ujung saraf yang sensitif yang letaknya antara dinding rektum dan vagina, dan/atau dari stimulasi tidak langsung pada area G-spot.

Menurut peneliti perilaku seksual, Alfred Kinsey, kaum heteroseksual yang melakukan anal sex berjumlah hampir 40%. Sedangkan data terbaru dari hasil penelitian University of British Columbia (dikutip oleh surat kabar The Georgia Straight pada 5 Mei 2005) menunjukkan bahwa kaum heteroseksual yang secara teratur melakukan anal sex sekitar 30% - 50%.
Menurut hasil studi oleh Edward Laumann yang dituliskan dalam buku The Social Organization of Sexuality: Sexual Practices in the United States, 80% pria homoseksual di Amerika Serikat pernah melakukan anal sex, sedangkan 20%-nya tidak pernah melakukannya sama sekali. Di dalam bahasa slang kaum gay, dikenal istilah "top" yang berarti orang yang melakukan penetrasi ke dubur partner seksualnya, "bottom" artinya orang dipenetrasi, sedangkan "versatile" artinya orang yang bisa berperan sebagai top dan bottom. Istilah-istilah ini dipakai untuk hubungan seksual secara anal antara dua orang pria.

Hubungan anal sex antara dua orang pria pada beberapa kebudayaan di dunia dianggap merupakan praktek seksual yang normatif. Misalnya saja pada abad pertengahan di Jepang (lihat gambar di atas), anal sex sering terjadi di dalam konteks hubungan antara murid dan mentor (pembimbing). Di kebudayaan Yunani Kuno, anal sex sudah biasa dipraktekkan. Istilah "Greek love" dipakai untuk merujuk pada praktek anal sex, sampai-sampai di jaman modern sekarang ini terdapat ungkapan "Doing it the Greek way" - merupakan bahasa slang untuk praktek anal sex. Suku Moche di Peru juga telah mempraktekkan anal sex sejak lama di dalam hubungan heteroseksual. Hal ini bisa terlihat di dalam ukiran-ukiran erotik yang ada di vas dan pot yang berasal dari kebudayaan pra-modern - 31%-nya menampilkan adegan anal sex heteroseksual.

Di era HIV / AIDS seperti saat ini, perilaku anal sex tanpa pengaman sangat rentan untuk menularkan atau tertular HIV. Konsentrasi sel darah putih yang tinggi di sekitar rektum, resiko robeknya rektum, dan salah satu fungsi rektum yang dapat menyerap cairan - semuanya itu meningkatkan resiko penularan HIV karena virus HIV berkembang di dalam sel T / CD4 pada sel darah putih. Penggunaan kondom sangat dianjurkan - walaupun pada aktivitas anal sex kondom lebih mudah robek atau terlepas dibandingkan hubungan seks melalui vagina. Beberapa perusahaan kondom membuat kondom "extra strong" yang didesain khusus untuk hubungan anal sex. Kondom ini memang lebih kuat tetapi biasanya tidak dilapisi spermisida (pembunuh sel sperma), sehingga proteksinya untuk pencegahan kehamilan lebih kurang pada hubungan heteroseksual.

Dedicated to the " World AIDS Day " - December 1st every year...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home